BREAKING NEWS

Ujian P3D Desa Pelemwatu Digelar Diam-Diam di Kampus Wijaya Putra, Warga Duga Ada Rekayasa dan Permainan Panitia

Gresik - INVESTIGASILPKRI.COM
Proses penjaringan dan penyaringan Perangkat Desa (P3D) untuk pengisian jabatan Kepala Dusun Pelem Dodol, Desa Pelemwatu, Kecamatan Menganti, Kabupaten Gresik, kini menjadi sorotan serius publik. Pelaksanaan ujian yang digelar pada Minggu (1/2/2026) itu diduga kuat tidak transparan, tertutup, bahkan sarat rekayasa.

Ujian P3D tersebut disebut-sebut dilaksanakan secara “diam-diam” dan dirahasiakan, bukan hanya dari masyarakat, tetapi juga dari sebagian anggota Panitia P3D sendiri. Fakta ini memicu dugaan adanya pengkondisian sistematis untuk memenangkan salah satu calon.

Informasi yang diperoleh media ini menyebutkan, lokasi ujian baru diinformasikan sekitar 15 menit sebelum keberangkatan.

Sejumlah panitia mengaku kebingungan karena tidak pernah dilibatkan dalam penentuan lokasi ujian, yang belakangan diketahui berlangsung di Kampus Wijaya Putra, Jalan Raya Benowo, Surabaya.
Tak hanya itu, para peserta calon Kepala Dusun juga mengaku tidak mengetahui secara pasti lokasi ujian sejak awal.

Mereka hanya diminta bersiap dan berangkat tanpa penjelasan detail, sebuah kondisi yang dinilai bertentangan dengan prinsip transparansi dan keterbukaan dalam rekrutmen perangkat desa.

Keanehan lain muncul dari pengaturan ruang ujian. Berdasarkan dokumentasi yang beredar, posisi duduk salah satu calon terlihat tepat berada di depan meja pengawas. Situasi ini menimbulkan pertanyaan serius mengenai independensi pengawasan serta potensi konflik kepentingan dalam pelaksanaan ujian.

Hasil akhir ujian menunjukkan Roby Darwanto meraih nilai tertulis 94 dan nilai tes komputer 85, dengan total 179 yang dibagi dua menjadi nilai akhir 89,5. Sementara pesaingnya, M. Fauzan Hadi, hanya memperoleh nilai tertulis 58 dan nilai komputer 69, dengan total nilai akhir 63,5.

Selisih nilai yang cukup mencolok tersebut semakin memperkuat kecurigaan warga bahwa proses seleksi tidak berjalan secara objektif.
Salah satu warga Desa Pelemwatu yang enggan disebutkan identitasnya menyampaikan kekecewaannya secara terbuka.

“Kami sudah curiga sejak awal. Lokasi ujian dirahasiakan, panitia tidak dilibatkan penuh, peserta dibuat bingung. Semua seperti sudah diatur rapi. Ketua P3D bahkan tidak transparan ke panitia sendiri. Ini jelas tidak sehat,” ungkapnya.

Ia juga menilai, dugaan ini tidak bisa dilepaskan dari lemahnya kontrol kepemimpinan di tingkat desa.

“Kalau seperti ini terus, ini mencerminkan kepemimpinan desa yang buruk. Soal ada main atau tidak dengan Kepala Desa, biarlah nanti dipertanggungjawabkan masing-masing. Tapi warga tidak akan diam,” tegasnya.

Menurut warga tersebut, jika mekanisme seperti ini dibiarkan, maka jabatan Kepala Dusun yang seharusnya menjadi pelayan masyarakat justru berpotensi menjadi sumber konflik baru.

“Warga akan terus mengawasi dan siap melakukan koreksi bahkan banding. Nantinya akan terlihat, apakah yang terpilih benar-benar mampu menjalankan amanah atau justru jadi beban bagi pemerintahan dusun,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Desa Pelemwatu, Sukayin, saat dikonfirmasi mengaku tidak mengetahui teknis maupun mekanisme detail pelaksanaan ujian P3D tersebut.

“Saya tidak tahu apa-apa soal mekanisme. Saya hanya datang karena mendapat undangan. Yang saya tahu, hari Sabtu ada undangan dari P3D Desa Pelemwatu untuk hadir di Kampus Wijaya Putra,” ujar Sukayin singkat.
Masyarakat Desa Pelemwatu kini berharap agar instansi terkait, termasuk pemerintah kecamatan hingga kabupaten, tidak menutup mata atas dugaan ketidakberesan dalam proses P3D tersebut.

Warga menilai, jika dibiarkan, praktik tertutup dan tidak transparan ini berpotensi memecah belah persatuan, merusak kepercayaan publik, serta mencederai nilai demokrasi di tingkat desa.

Tim Investigasi /Redaksi

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar